Ulasan

Pada Selasa, 7 Agustus 2018, Taman Baca Kesiman menyelenggarakan pemutaran film dan diskusi “Nyala, Nyanyian yang Tak Lampus”, karya Fauzi Rahmadani. Fokus film ini adalah dua sosok yang bertahan setelah dipenjara paska-peristiwa 1965. Ruswanto dan Slamet AR menjalani kesehariannya dengan sederhana, dengan menyimpan cita-cita besar.
Sejak sore para hadirin telah memadati beranda Taman Baca Kesiman. Obrolan santai seputar antropologi di era kekinian, membuat para hadirin menyimak dua Antropolog, Degung Santikarma, dan Roberto Hutabarat. Hadirin begitu antusias menyimak, membantah, pun merespon obrolan dalam suasana yang penuh keakraban.
Agenda di beranda Taman Baca Kesiman kala itu boleh jadi semacam momentum berkumpul yang santai, guyub, nan bernas. Diinisiasi oleh sang tuan rumah, dan sebuah kolektif pengamat film bernama Cinema Poetica, pada pertemuan sore-sore itu terdengar beberapa kosakata film yang berkelindan, serta tak jarang diselingi gelak tawa dan lelucon. Kelas Kritik Film bersama Cinema Poetica yang digelar pada 12-13 Juli 2018 lalu, melahirkan beberapa catatan sederhana dari salah seorang peserta sebagai berikut.
Akhir pekan yang menyenangkan, mendengar kisah Bunda Sisca dalam acara Suka Duka di Tana Bali, program kolaborasi Taman Baca Kesiman dan BaleBengong, menambah wawasan tentang komunitas transpuan di Bali. Gelak tawa menghiasi obrolan santai sepanjang acara. Penutup acara yang asik dihibur oleh Gabriel Mayo dan Celtic room. Musik mereka membuat kita berdansa gembira.
PERTENGAHAN tahun 2017 lalu, majalah The Economist menyatakan bahwa di era ekonomi digital ini, data adalah sumber daya yang baru. Ia bahkan digadang sebagai “minyak bumi” baru. Minyak bumi, lebih dari sekadar sumber daya, adalah yang menghidupkan perekonomian dunia.
Pada hari Kamis, 21 Juni 2018, berlangsung bincang sore bersama Hizkia Yosie Polimpung, peneliti Koperasi Riset Purusha dan Editor IndoProgress. Hal menarik yang disampaikan oleh Yosie adalah dengan berlangsungnya proses datafikasi yang sangat masif, persoalan mendasar yang kerap kali tenggelam karena perhatian berlebih pada soal pelanggaran privasi adalah bahwa kita semua (user) pengguna aplikasi platform telah dijadikan pekerja-pekerja yang menghasilkan data-data untuk ditambang mesin algoritma.
Scroll to Top