Ulasan

Kentongan di balai desa (bale banjar) dipukul bertalu-talu, pertanda bahaya. Orang-orang tersentak dari tidurnya, menggapai apa saja yang terdekat untuk senjata—palu, arit, pentung, atau keris. Kentongan terus bertalu-talu dan teriakan “maling!, maling!, maling!” memenuhi udara malam. Wajah ngantuk para penduduk perlahan-lahan berubah nanar dihinggapi kemarahan dan kecurigaan. Satu per satu mereka datang dan berkerumun untuk mencari tahu: malam itu seseorang telah mencuri arca-arca suci dari salah satu pura di desa mereka.
Sebagai ruang sharing dan belajar yang fokus dalam memberdayakan masyarakat sekitar dan membangun pemikiran kritis sebagai bekal mensiasati hidup di jaman now, Taman Baca Kesiman mendapat kesempatan untuk mengumpulkan beberapa anak muda untuk duduk bersama, saling berkenalan satu sama lain sambil belajar mengenai situasi sosial dan budaya yang tak jarang berat sebelah atau menguntungkan satu kelompok sembari menindas kelompok yang lain.
Rabu, 5 Desember 2018. Taman Baca Kesiman bersama dengan Greenpeace Indonesia menggelar diskusi publik dengan tema kriminalisasi ditengah ancaman krisis ekologis. Dihadiri oleh Gus Roy Murtadho, Koordinator Nasional Forum Nadhiyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) dan Wayan 'Gendo' Suardana, Koordinator Umum Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI) sebagai pembicara dan Roberto Hutabarat selaku moderator diskusi.
Malam solidaritas diselenggarakan oleh jaringan musisi lintas negeri se-Asia Tenggara (aMP3) di Taman Baca Kesiman. Sebagian besar dari mereka adalah musisi pergerakan dan perjuangan yang berasal dari Filipina, Thailand, Kamboja, dan Indonesia. Kehadiran mereka di Bali sebagai bentuk solidaritas untuk perjuangan kemanusiaan dan menyuarakan perubahan terhadap sistem ekonomi global yang menindas, yang dimana bertepatan dengan pekan penyelenggaran Pertemuan Tahunan IMF dan World Bank 2018 di Nusa Dua.
Menulis itu adalah eksplorasi ide,” kira-kira begitu ungkapan Geger Riyanto dalam Kelas Menulis Esai yang diselenggarakan di Taman Baca Kesiman, pada Sabtu, 1 September 2018. Siang itu para peserta tampak khusyuk belajar bersama. Dalam kelas para peserta juga bercerita tentang proses menulis yang mereka alami, sekaligus kendala-kendala yang dihadapi ketika memulai menulis. “Tidak ada jalan pintas,” lanjut Geger.
Sejak siang hari, 15 Agustus 2018, halaman belakang Taman Baca Kesiman sudah ramai. Tampak kesibukan seniman jalanan menggoreskan kuas pada media yang tersedia. Seluruh seniman yang hadir melukiskan penolakannya terhadap rencana pembangunan PLTU-Batubara Celukan Bawang tahap 2. Tampak seniman jalanan Masgaga, Anna Bronza & Easy Tiger, The Pojoks, WAP, Timbool Kidney, dan Komunitas Djamur.
Scroll to Top