Ulasan: Nyala, Nyanyian yang Tak Lampus, Pemutaran Film dan Diskusi

Pada Selasa, 7 Agustus 2018, Taman Baca Kesiman menyelenggarakan pemutaran film dan diskusi “Nyala, Nyanyian yang Tak Lampus”, karya Fauzi Rahmadani. Fokus film ini adalah dua sosok yang bertahan setelah dipenjara paska-peristiwa 1965. Ruswanto dan Slamet AR menjalani kesehariannya dengan sederhana, dengan menyimpan cita-cita besar. Seorang mantan guru yang aktif berorganisasi, Pak Rus kerap menyambangi sahabat dan keluarga mengendarai sepeda ontel kesayangannya. Pak Slamet, seorang seniman, pelan-pelan membangun sanggar seni yang diharapkan membangkitkan kesenian tradisional Banyuwangi yang ia sayangi.

“Butuh lebih dari 1 tahun bagi tim kerja dokumenter untuk menyelesaikan film ini,” ungkap Fauzi dalam sesi diskusi setelah pemutaran. “Sebelum memulai proses, kami memang lebih dulu mengenal sosok Pak Rus dan Pak Slamet. Selama setahun lebih kami bolak balik menyambangi beliau, justru kami yang lebih sering kehabisan energi,” lanjut Fauzi. “Pada proses produksi, kami lebih banyak dibimbing oleh beliau, dan juga berusaha untuk tidak terlalu mengintervensi Bapak,” sambungnya.

Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung pemutaran film dan diskusi kali ini. Jumpa lagi pada program berikutnya!

Selengkapnya: Dokumentasi Nyala, Nyanyian yang Tak Lampus, Pemutaran Film dan Diskusi

Lainnya