Ulasan: Kelas Kritik Film Cinema Poetica & Taman Baca Kesiman 2018

Oleh Siswan Dewi

 

Agenda di beranda Taman Baca Kesiman kala itu boleh jadi semacam momentum berkumpul yang santai, guyub, nan bernas. Diinisiasi oleh sang tuan rumah, dan sebuah kolektif pengamat film bernama Cinema Poetica, pada pertemuan sore-sore itu terdengar beberapa kosakata film yang berkelindan, serta tak jarang diselingi gelak tawa dan lelucon. Kelas Kritik Film bersama Cinema Poetica yang digelar pada 12-13 Juli 2018 lalu, melahirkan beberapa catatan sederhana dari salah seorang peserta sebagai berikut.

Menulis sebuah ulasan atas sajian film, nyatanya bukan hanya menguji berbagai elemen dalam film itu sendiri, melainkan juga menguji kematangan nalar si kritikus film. Kematangan nalar berjalan seiring dengan proses dialektika yang dialami seseorang untuk membangun keluwesan dalam memaknai film, serta mengaitkannya pada pelbagai konteks. Kemampuan ini sama dengan proses memahami pengalaman menonton film dari diri kita masing-masing, kemudian diutarakan melalui serangkaian gagasan yang juga menyentuh realitas kehidupan sekitar kita sehari-hari.

Secara praktis, agenda kelas kritik film ini mengajak para peserta untuk memahami beberapa hal sebagai modal awal dalam mengulas film. Menulis ulasan film pada dasarnya ialah membandingkan realita yang tampak pada layar dengan realita dalam kehidupan sehari-hari. Proses membandingkan ini memerlukan beberapa strategi agar fokus dan sensitivitas peserta lebih efektif dalam ‘membaca’ film. Dalam hal ini diperlukan kemampuan untuk mengenal film secara lebih mendalam, mulai dari memahami rangkaian antara gambar dan suara, hingga esensi atas logika bernarasi sebuah sajian film. Maka boleh dikata, ada semacam formula yang coba ditawarkan untuk melatih kepekaan para peserta dalam memaknai berbagai elemen dalam sebuah film, sekaligus membangun sebuah opini dengan latar nalar yang relatif dapat dipertanggungjawabkan.

Selain larut dalam obrolan seputar teknik-teknik menulis ulasan film, perbincangan kala itu juga menjadi momentum berbagi pengalaman mengenai dinamika industri perfilman tanah air serta berbagai regulasi yang mewarnainya. Termasuk perbincangan soal geliat budaya menonton film di ruang publik alternatif yang mulai tumbuh di berbagai daerah di Indonesia.

Program Kelas Kritik Film bersama Cinema Poetica ini merupakan kali pertama diadakan di Bali. Cinema Poetica sendiri merupakan kolektif para peneliti, jurnalis, dan pegiat film yang berfokus pada literasi sinema di tanah air sejak tahun 2010 lalu. Semoga kedepannya momentum semacam ini dapat diinisiasi oleh lebih banyak teman-teman pecinta film di Bali.

Lainnya