Ulasan: Panggil Aku Kartini Saja

Judul: Panggil Aku Kartini Saja
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Hasta Mitra

Imaji tentang Indonesia belum lagi terang pada masa hidup Kartini. Lahir di onderdistrik Mayong, Kabupaten Jepara, pada 21 April 1879, kelahirannya menandai periode awal kebangkitan nasionalisme. Hal ini jelas digambarkan dalam kata-kata Pramoedya Ananta Toer:

Kartini adalah orang pertama dalam sejarah bangsa Indonesia yang menutup zaman tengah, zaman feodalisme Pribumi yang “sakitan” menurut istilah Bung Karno. Bersamaan dengan batas sejarah Pribumi ini, mulai berakhir pula penjajahan kuno Belanda atas Indonesia dan memasuki babak sejarah penjajahan baru; imperialisme modern. […] Dua macam arus sejarah tersebut tidak perlu mengaburkan posisi Kartini. Bagi Kartini sendiri sudah jelas:”Tujuan adalah Rakyat”, dan dalam hal ini segala jalan yang mungkin bagi keuntungan Rakyatnya adalah “diberkahi”. Sebagai seorang wanita, yang sebenarnya berdiri sendiri, tanpa suatu dukungan organisasi massa yang waktu itu belum lahir, perjuangan dan masalah-masalah yang dihadapinya sebenarnya jauh lebih berat. Dari sini saja orang telah dapat mengerti mengapa jalan, bentuk, dan warna perjuangannya menjadi begitu rupa. Kekuatan dan kekuasaannya hanya dibidang moral, lebih dari itu sama sekali tidak ada. Ia tidak punya alat-alat untuk mewujudkan konsep-konsep pemikirannya. Bahkan boleh dikata segala pihak menentangnya. Bukanlah percuma kalau ia mengatakan: “Sayang! Kekuasaan tiada padaku, baiklah aku diam diri saja tentang itu.”

Meski begitu, perjuangan yang ia lakukan semasa hidupnya kini lebih dikenang melalui sosok perempuan berkebaya dan bersanggul, jauh sekali dari pergolakan pemikiran dan daya upaya yang Ia lakukan dalam keterbatasannya. Sosok Kartini menjadi steril, dan perayaan-perayaan atas kelahirannya menjadi rutinitas upacara, tanpa upaya mengenal dan belajar lebih jauh arti perjuangannya.

Disinilah karya Pram ini menduduki posisi yang penting. Pram membaca ulang konteks zaman, pergulatan pemikiran dan tindakan-tindakan Kartini semasa hidupnya. Pembaca diantar memasuki alam kehidupan Kolonial, semasa hidup Kartini, beserta jalan hidup yang Kartini alami. Sehingga membawa pembaca keluar dari mitos-mitos yang melingkupi Kartini:

Kartini disebut-sebut di berbagai hari peringatan lebih banyak sebagai tokoh mitos, bukan sebagai manusia biasa yang sudah tentu mengurangi kebesaran manusia Kartini itu sendiri, serta menempatkannya ke dalam dunia dewa-dewa. Tambah kurang pengetahuan orang tentangnya, tambah kuat kedudukannya sebagai tokoh mitos. Gambaran orang tentangnya dengan sendirinya lantas menjadi palsu, karena kebenaran tidak dibutuhkan, orang hanya menikmati candu mitos. Padahal Kartini sebenarnya jauh lebih agung daripada total jendral mitos-mitos tentangnya.

Merayakan Hari Kartini menjadi penting bagi kita hari ini untuk melihat kembali bagaimana upaya membangun Indonesia telah dilakukan sejak berabad yang silam. Selain belajar dengan tekun, meski harus berakhir pada sekolah rendah, hal tersebut tidak mengurangi semangatnya untuk terus belajar. Pendidikan bagi perempuan begitu penting artinya, sedangkan pada masa itu Ia sendiri masih mengalami tradisi pingitan. Hambatan dan keterbatasan yang Ia rasakan tidak menghalangi semangat juangnya bagi tanah kelahirannya. Kita hanya perlu mengingat pesan Pram:

Kartini hidup dalam taraf kesadaran nasional yang paling pertama. Melupakan fakta historik ini, adalah tak mau tahu tentang posisi Kartini dalam zamannya sendiri. […] Kartini adalah pemula dari sejarah modern Indonesia. […] Tanpa Kartini, penyusunan sejarah modern Indonesia tidaklah mungkin.

Lainnya