Berita

Sejak siang hari, 15 Agustus 2018, halaman belakang Taman Baca Kesiman sudah ramai. Tampak kesibukan seniman jalanan menggoreskan kuas pada media yang tersedia. Seluruh seniman yang hadir melukiskan penolakannya terhadap rencana pembangunan PLTU-Batubara Celukan Bawang tahap 2. Tampak seniman jalanan Masgaga, Anna Bronza & Easy Tiger, The Pojoks, WAP, Timbool Kidney, dan Komunitas Djamur.
Pada Selasa, 7 Agustus 2018, Taman Baca Kesiman menyelenggarakan pemutaran film dan diskusi “Nyala, Nyanyian yang Tak Lampus”, karya Fauzi Rahmadani. Fokus film ini adalah dua sosok yang bertahan setelah dipenjara paska-peristiwa 1965. Ruswanto dan Slamet AR menjalani kesehariannya dengan sederhana, dengan menyimpan cita-cita besar.
Sejak sore para hadirin telah memadati beranda Taman Baca Kesiman. Obrolan santai seputar antropologi di era kekinian, membuat para hadirin menyimak dua Antropolog, Degung Santikarma, dan Roberto Hutabarat. Hadirin begitu antusias menyimak, membantah, pun merespon obrolan dalam suasana yang penuh keakraban.
Scroll to Top