Ulasan: Bincang Sore Asal Usul Kebudayaan, Telaah Antropologi Penalaran terhadap Advokasi Intelektual Diskursus Kebudayaan Indonesia, bersama Geger Riyanto

Beranda Taman Baca Kesiman petang itu tampak ramai. Jumat, 31 Agustus 2018, hadir Geger Riyanto, penulis Asal Usul Kebudayaan, Telaah Antropologi Penalaran terhadap Advokasi Intelektual Diskursus Kebudayaan Indonesia, guna mendiskusikan buku anyarnya. Sebagai penanggap hadir I Gede Gita Purnama, dan Gede Kamajaya.

Gita Purnama mengungkap beberapa segi dari buku Asal Usul Kebudayaan ini. Gita mencatat, telusur teoritik pada bab-bab awal buku ini terasa melelahkan. Pelacakan yang dilakukan Geger terhadap diskursus kebudayaan, utamanya dalam kajian antropologi, dengan cakupan yang luwas, lumayan mengambil porsi besar. Bab-bab berikutnya, menurut Gita, lebih menitikberatkan pada persinggungan Geger dengan budayawan-budayawan Indonesia.

Gede Kamajaya menguraikan upaya Geger untuk keluar dari logika oposisi biner dalam membaca kebudayaan. Meski begitu, menurut Kamajaya, Geger terlihat masih terjebak dalam logika yang berusaha dilampauinya tersebut.

Geger Riyanto, menanggapi dua pengulasnya, yang ia sebut pembaca yang tekun, menyatakan bahwa bukunya berusaha menjelaskan praktik para budayawan ketika bersinggungan dengan gagasan, audiens, dan lingkungan sosial yang direngkuhnya. Kebudayaan, menurut Geger, hanya mungkin diperbincangkan ketika ia menjadi penanda mengambang. Pada titik ini, kebudayaan, sebagai sebuah konsep penjelas, menjadi tidak memiliki rujukan konkretnya. Hal inilah ciri khusus diskursus kebudayaan Indonesia, setidaknya dalam kurun periode yang ia teliti, terentang sejak 1920 hingga periode kontemporer.

Ketika sesi tanya jawab, hadirin tampak antuasias bertanya dan menanggapi jalannya diskusi yang berlangsung hingga jauh malam. Terima kasih kami haturkan kepada seluruh penanggap dan hadirin sekalian. Sampai jumpa!

Lainnya