Dalam rangka menyongsong Revolusi Industri 4.0, Presiden Joko Widodo meluncurkan peta jalan dengan nama “Making Indonesia 4.0”, digagas oleh Kementrian Perindustrian, pada 4 April 2018 yang lalu. Menurut Presiden, Revolusi Industri 4.0 didominasi teknologi automasi dan pertukaran data. Sebagai langkah awal dalam menjalankan peta jalan “Making Indonesia 4.0”, pemerintah akan menjadikan lima industri nasional sebagai fokus implementasi industri 4.0 di tahap awal. Kelima industri tersebut ialah makanan dan minuman, tekstil, otomotif, elektronik, dan kimia.
Seturut nalar ini, kerapkali dinyatakan bahwa salah satu hal yang mengubah dunia adalah Revolusi Industri di Inggris. Saat ini, jika membebek narasi dominan, kita berada pada periode revolusi industri keempat. Revolusi pertama ditandai dengan teknologi mesin uap; kedua dengan elektrifikasi dan lini perakitan di pabrik; ketiga dengan komputerisasi dan informasionalisasi proses-proses produksi, bisnis dan manajerial; sementara revolusi keempat ditandai dengan internetisasi dan otomasi dengan artificial intelligence.
Jika diktum sejarah umat manusia adalah sejarah perjuangan kelas masih relevan, perlu kiranya membaca ulang konteks perubahan yang berlangsung, sebagai upaya menawarkan alternatif atas kondisi-kondisi hari ini. Apa dampak dari perubahan-perubahan mendasar ini, jika ada, bagi kaum pekerja? Bagaimana sistem ini bekerja di dalam dan kepada kaum pekerja? Pengorganisasian ekonomi politik seperti apa yang relevan bagi perjuangan kaum pekerja dalam konteks ini?
Bincang Sore kali ini mengundang kawan-kawan untuk hadir dalam obrolan santai bersama Hizkia Yosie Polimpung, seorang dosen, yang juga peneliti Koperasi Riset Purusha dan Editor IndoProgress pada Kamis, 21 Juni 2018 pukul 18.00 di Taman Baca Kesiman. Bincang Sore adalah program Taman Baca Kesiman dalam membuka wacana kritis kepada publik tentang topik-topik terkurasi dalam perbincangan yang hangat dan santai.

