Ulasan: Pramoedya Ananta Toer, Sang Pemula

Seorang kawan yang aktif dalam pers mahasiswa berkilah, “Temen-temenku aja nggak ada yang tau namanya…” Kondisi yang belum banyak berubah dari gambaran Pramoedya Ananta Toer dalam Sang Pemula.

Dalam buku ini, Pram berkisah tentang perjalanan Raden Mas Tirto Adhi Soerjo, seorang tokoh yang menurutnya,”… Belum mendapatkan keadilan sejarah.” Karya-karya dan sepak terjangnya, sebagai jurnalis sering membuat pembesar-pembesar yang kena kritiknya, “moentah darah.”

Selain menguraikan jalan hidup, masa kecil yang gelap hingga periode produktif yang gilang gemilang, Pram juga memuat naskah tulisan, baik fiksi atau pun laporan, yang ditulis sang tokoh. Pram mencatat, “… Usahanya telah membuktikan, bahwa bangsanya dapat diorganisasikan untuk kepentingan bersama, dapat mengorganisasi diri, dengan cara-cara modern, asalkan mendapatkan pimpinan dan pemimpin yang tepat.”

Selain sebagai jurnalis yang handal, tulisan-tulisannya dimaksudkan sebagai suara kritis terhadap Pemerintah, ia juga seorang organisatoris dan propagandis yang ulung. Pilihannya dalam menggunakan bahasa melayu pasar, keberpihakannya kepada kaum terprentah, membuktikan kesadaran baru yang tumbuh melampaui zamannya.

Karya ini kiranya semakin melengkapi bacaan tentang Tirto, tokoh utama dalam Tetralogi Pulau Buru yang termahsyur itu, yang ditulis pada masa pembuangan Pram di pulau Buru. Mungkin malaikat sejarah tersenyum melihat kerja-kerja yang Pram lakukan saat menyusun buku ini, agar supaya bangsanya tidak lupa budi baik dan amal perbuatan Tirto Adhi Soerjo, Sang Pemula itu.

Sang Pemula
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara

Lainnya