Dirgahayu Pramoedya Ananta Toer

“Bagi saya, keindahan itu terletak pada kemanusiaan, yaitu perjuangan untuk kemanusiaan, pembebasan terhadap penindasan. Jadi keindahan itu terletak pada kemanusiaan, bukan dalam mengutak-atik bahasa.”
—Pramoedya Ananta Toer

Hari ini kita memperingati hari kelahiran Pram, seseorang yang darinya kita belajar arti perlawanan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Pram mewarisi kita karya-karya yang berharga, baik berupa cerita, uraian prasaran, maupun roman sejarah.

Pada masanya, karya-karya yang Pram tulis seringkali mengantarnya ke penjara. Pram menulis Perburuan saat ditahan Belanda. Hoakiau di Indonesia, suatu komentar atas perlakuan diskriminatif terhadap Tionghoa, membuatnya ditahan hampir selama setahun pada masa pemerintahan Soekarno. Keterlibatannya pada Lembaga Kebudayaan Rakyat, pasca 1965 membuatnya ditahan di Nusa Kambangan, kemudian dibuang ke Pulau Buru. Tetralogi Pulau Buru lahir pada masa itu. Perlakuan lain yang ia terima adalah pelarangan buku. Responnya? “Setiap pelarangan buku adalah tanda bintang, suatu penghargaan, yang disematkan di dada saya.”

Saya pikir menjadi penting untuk menempatkannya secara terhormat, sebagaimana usaha keras kepalanya yang tak henti-henti mengingatkan kita pada sejarah masyarakat kita sendiri.

Selamat ulang tahun, bung.

artwork: Putu Deoris

Lainnya